Senin, 10 Mei 2021

Cerita Pengalaman menjadi anggota Mapala MATA JALA UMNU Kebumen

 

DAGING PILIHAN



Halo sahabat alam! Salam kenal aku Amri ‘Inayah salah satu bagian dari anggota Mapala Mata Jala UMNU Kebumen. Eitss bagi kalian yang belum tau mapala jangan sampe salah mengartikan ya! Mapala sadalah singkatan dari mahasiswa pecinta alam bukan mahasiswa paling lama hihi. Mata jala sendiri berdiri pada tanggal 30 april 2016 dan baru saja merayakan harlah yang ke 5. Mata jala merupakan UKM pertama di UMNU Kebumen loh.

Sebelum menjadi anggota tetap Mata Jala, kita harus melewati beberapa tahapan diantaranya: pendidikan dasara (diksar), pendidikan lanjut (dikjut) dan penetapan. Setelah melewati tahapan itu semua, barulah kita bisa menjadi kader tetap Mata Jala.

Pada bulan desember 2019, aku dan 6 teman yang lain mengikuti pendidikan dasar yang diadakan di alas wonolontos, kecamatan karanggayam. Sebelumnyanya kita pun sudah dibekali materi tentang SAR dan juga Gunung Hutan.

Saat itu, angkatanku terdiri dari 7 orang, yaitu aku, syukron, mahfud, lisna, chintya, lilis dan juga rohmah. Lebih banyak cewe nya memang. Beberapa dari kita belum pernah kenal sebelumnya jadi maklum lah kalau kadang masih merasa asing dan sungkan.

Saat sampai di lokasi yang dituju, kita pun langsung mendirikan bivak. (oh malam pertama) batinku. Kita pun memasak bersama untuk pertama kalinya. Apesnya, nasi yang kita masak gosong. Ternyata kita salah metode saat masak nasi itu. Selain gosong, setengah dari nasi di rantang pun tumpah. Ah ada-ada saja. Namun, hal tersebut malah menciptakan rasa kekeluargaan yang sangat erat.

Setelah kasus nasi gosong dan tumpah, kita pun melanjutkan agenda yang sudah terjadwal. Lagi-lagi kita ceroboh karena tidak melihat rundown acara. Peluit pun terdengar nyaring dengan suara laki-laki yang lantang dan sedikit berat. Kita pun berlarian menuju lokasi dengan medan yang sedikit menanjak dengan carier di punggung. (ini kali pertama aku lari-lari bawa carier). Saat itu, semuanya pun dimulai.

Ternyata tindakan kita sudah dipantau sejak awal kita melakukan pertemuan. Tentang manajemen waktu, manajemen perjalanan, manajemen tempat dan banyak lagi. Aku baru sadar kalau hal-hal itu memang benar-benar harus diperhatikan terlebih karena kita di lalam bebas.

Malam itu, tiba-tiba gemuruh terdengar dengan suara angina dari kejauhan. Akan datang hujan, pikirku. Tak lama, suara itu pun mendekat dan hujan pun mengguyur kita di wonolontos. Hujan nyatanya tidak menghalangi agenda kita pada saat itu. Namun, setelah semua agnda malam itu selesai salah satu angkatan kami sakit. “Ada suara peluit” kataku pada chintia. Ku pikir peluit itu tanda dari panitia. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke bivak kami.

Mba lilis yang sakit pun segera mendapat pertolongan pertama dari panitia. Ternyata saat itu mba lilis masih mengenakan pakaian yang sama setelah terguyur hujan deras tadi.

Keesokan harinya, kita melakukan senam sebelum berkegiatan. Nyatanya alunan “kewer-kewer” itu, berhasil membuat kita tertawa tebahak-bahak ditambah aksi dari mas dono sang instruktur senam yang sangat totalitas saat itu.

Selepas itu, agenda kita yaitu survival. Kami dibagi menjadi 2 tim. Tim pertama yaitu aku, syukron dan lisna. Sedangkan tim 2 yaitu mahfud, chintya, lilis dan rohmah.

Saat survival, kami merasa bosan dengan tanpa bahan candaan. Akhirnya saat kita beristirahat, aku pun nyeletuk “kaya kiye ya, nasibe dadi bojone tukang becak. Anak sing mbarep njaluk motor FU. Sing ragil jere pengin ndang mbojo. Mumet mumet” (sambil berkipas-kipas dengan topi). Ternyata syukron membalas guyonanku. “sabar ya mak. Pancen urip kudu disyukuri, bisa mangan uis Alhamdulillah”. Tak disadari, suara lisna pun terdengar “ya uis dede manut pak, mak. Ora papa kakang sit dituknna motor FU.” Kita pun saling menatap dan tertawa.

Setelah guyonan tadi, kita segera mencari bahan makanan. Ada pohon pisang yang tentunya dengan buahnya pada saat itu. Awalnya, kita merasa sungkan untuk memetiknya namun salah satu dari kita tiba-tiba berujar “memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya” – kode etik pecinta alam nomor 2. Tak lama, kita pun segera memetik beberapa pisang itu.

Tak ada waktu tanpa guyonan. Lisna kembali nyeletuk “panda mangan pring ora mati. Menungsa mangan pring ya ora mati”. Hampir saja sukron melempar pisang-pisang itu ke arah lisna saking glemeteknya.

Terlepas dari guyonan yang receh itu, ternyata senja begitu cepat muncul. Kita pun berbagi tugas. Ada yang memasak,mengambil air, sholat dan ada juga yang tiba-tiba berteriak “eh ayam.. ayam. Itu ayam”. Sontak semua orang yang sedang di area bivak itu kaget dan segera bahagia dengan sedikit bingung “mana ayam, mana?”

“itu loh ayam.. itu”. Tak lama syukron pun langsung siap-siap menangkap ayam itu dan.. tiba-tiba benda yang dianggap ayam itu pun kempes. Sontak, semua orang tertawa karena yang dikira ayam hanyalah kantok kresek yang menggelembung dan si syukron merasa sebel telah ditipu oleh mba lilis.

Aku sempat percaya kalau ada ayam yang datang karena saat survival, kita sempat berpapasan dengan ayam hutan namun ia belari sangat kencang.

Kita pun melanjutkan memasak dengan terus diselingi guyonan ayam kresek tadi. Ada lagi yang tiba-tiba nyeletuk “kita loh di sini selalu makan sama daging” dengan menujukkan bungkusan kecil berwarna kekuning-kuningan. “masako dengan daging pilihan” lagi-lagi semuanya tertawa.

Malamnya, belajar dari hal-hal sebelumnya kita lebih memantau rundown acara. Sampai sampai saat peluit belum berbunyi kita sepakat untuk naik ke lokasi lebih awal 5 menit dari jadwal. Saat malam terakhir itu, kita bersama-sama membentuk lingkaran dan mengangkat tangan kita dengan berkata “matajala, jaya jaya jaya!” hingga terdengar ke pos panitia.

Malam itu, ada hal-hal yang belum kami tahu kalau syukron mengalami kendala saat push up karena tanganya pernah di operasi, lisna kakinya sakit karena menuruni gundukan dengan cepat, dan rohmah yang kondisinya mulai drop.

Dari hal-hal itu, akhirnya kita sadar bahwa kita adalah keluarga. Seperti tubuh yang salah satu anggota badannya sakit, maka yang lain pun akan turut merasakan itu. Kepedulian, kekompakan, solidaritas dan kekeluargaan benar-benar kami rasakan pada malam terakhir ini.

Manusia memang tidak bisa hidup sendirian. Alam lah yang akhirnya benar-benar membuktikan hal itu.

Esoknya kita masih dihadapkan dengan agenda terakhir yaitu SRT. Setelahnya kita pun membongkar bivak dan mengemas barang-barang kita. Tak lupa kita pun masih guyon dengan persoalan si ayam kresek dan juga daging yang kita makan sehari hari saat di alas wonolontos, si daging pilihan. Sejak saat itu, angkatan kita lebih dikenal dengan angkatan “ayam kresek” dan juga “daging pilihan”.

Rasanya baru kemarin aku mengenal mereka namun, aku benar-benar merasa kita adalah keluarga.

Terimakasih matajaa.

*InayBabon

Salam Lestari!

Matajala jaya jaya jaya!

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 Comments:

Posting Komentar

Hubungi Kami

Nomor Whatsapp :

+62 856 4347 9430

Alamat :

Lantai 1, Gedung UMNU Kebumen,
Jl. Kusuma No.7, Wonoyoso, Bumirejo, Kec. Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah

Email :

matajalaumnukebumen@gmail.com