Cerita Pengalaman menjadi anggota Mapala MATA JALA UMNU Kebumen
DAGING PILIHAN
Halo
sahabat alam! Salam kenal aku Amri ‘Inayah salah satu bagian dari anggota
Mapala Mata Jala UMNU Kebumen. Eitss bagi kalian yang belum tau mapala jangan
sampe salah mengartikan ya! Mapala sadalah singkatan dari mahasiswa pecinta
alam bukan mahasiswa paling lama hihi. Mata jala sendiri berdiri pada tanggal
30 april 2016 dan baru saja merayakan harlah yang ke 5. Mata jala merupakan UKM
pertama di UMNU Kebumen loh.
Sebelum
menjadi anggota tetap Mata Jala, kita harus melewati beberapa tahapan
diantaranya: pendidikan dasara (diksar), pendidikan lanjut (dikjut) dan
penetapan. Setelah melewati tahapan itu semua, barulah kita bisa menjadi kader
tetap Mata Jala.
Pada
bulan desember 2019, aku dan 6 teman yang lain mengikuti pendidikan dasar yang
diadakan di alas wonolontos, kecamatan karanggayam. Sebelumnyanya kita pun
sudah dibekali materi tentang SAR dan juga Gunung Hutan.
Saat
itu, angkatanku terdiri dari 7 orang, yaitu aku, syukron, mahfud, lisna,
chintya, lilis dan juga rohmah. Lebih banyak cewe nya memang. Beberapa dari
kita belum pernah kenal sebelumnya jadi maklum lah kalau kadang masih merasa
asing dan sungkan.
Saat
sampai di lokasi yang dituju, kita pun langsung mendirikan bivak. (oh malam
pertama) batinku. Kita pun memasak bersama untuk pertama kalinya. Apesnya, nasi
yang kita masak gosong. Ternyata kita salah metode saat masak nasi itu. Selain
gosong, setengah dari nasi di rantang pun tumpah. Ah ada-ada saja. Namun, hal
tersebut malah menciptakan rasa kekeluargaan yang sangat erat.
Setelah
kasus nasi gosong dan tumpah, kita pun melanjutkan agenda yang sudah terjadwal.
Lagi-lagi kita ceroboh karena tidak melihat rundown acara. Peluit pun terdengar
nyaring dengan suara laki-laki yang lantang dan sedikit berat. Kita pun
berlarian menuju lokasi dengan medan yang sedikit menanjak dengan carier di
punggung. (ini kali pertama aku lari-lari bawa carier). Saat itu, semuanya pun dimulai.
Ternyata
tindakan kita sudah dipantau sejak awal kita melakukan pertemuan. Tentang
manajemen waktu, manajemen perjalanan, manajemen tempat dan banyak lagi. Aku
baru sadar kalau hal-hal itu memang benar-benar harus diperhatikan terlebih
karena kita di lalam bebas.
Malam
itu, tiba-tiba gemuruh terdengar dengan suara angina dari kejauhan. Akan datang
hujan, pikirku. Tak lama, suara itu pun mendekat dan hujan pun mengguyur kita
di wonolontos. Hujan nyatanya tidak menghalangi agenda kita pada saat itu.
Namun, setelah semua agnda malam itu selesai salah satu angkatan kami sakit. “Ada
suara peluit” kataku pada chintia. Ku pikir peluit itu tanda dari panitia.
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke bivak kami.
Mba
lilis yang sakit pun segera mendapat pertolongan pertama dari panitia. Ternyata
saat itu mba lilis masih mengenakan pakaian yang sama setelah terguyur hujan
deras tadi.
Keesokan
harinya, kita melakukan senam sebelum berkegiatan. Nyatanya alunan
“kewer-kewer” itu, berhasil membuat kita tertawa tebahak-bahak ditambah aksi
dari mas dono sang instruktur senam yang sangat totalitas saat itu.
Selepas
itu, agenda kita yaitu survival. Kami dibagi menjadi 2 tim. Tim pertama yaitu
aku, syukron dan lisna. Sedangkan tim 2 yaitu mahfud, chintya, lilis dan
rohmah.
Saat
survival, kami merasa bosan dengan tanpa bahan candaan. Akhirnya saat kita
beristirahat, aku pun nyeletuk “kaya kiye ya, nasibe dadi bojone tukang becak.
Anak sing mbarep njaluk motor FU. Sing ragil jere pengin ndang mbojo. Mumet
mumet” (sambil berkipas-kipas dengan topi). Ternyata syukron membalas guyonanku. “sabar ya mak. Pancen urip
kudu disyukuri, bisa mangan uis Alhamdulillah”. Tak disadari, suara lisna pun
terdengar “ya uis dede manut pak, mak. Ora papa kakang sit dituknna motor FU.”
Kita pun saling menatap dan tertawa.
Setelah guyonan tadi, kita segera mencari bahan
makanan. Ada pohon pisang yang tentunya dengan buahnya pada saat itu. Awalnya, kita
merasa sungkan untuk memetiknya namun salah satu dari kita tiba-tiba berujar
“memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan
kebutuhannya” – kode etik pecinta alam nomor 2. Tak lama, kita pun segera
memetik beberapa pisang itu.
Tak
ada waktu tanpa guyonan. Lisna
kembali nyeletuk “panda mangan pring ora mati. Menungsa mangan pring ya ora
mati”. Hampir saja sukron melempar pisang-pisang itu ke arah lisna saking glemeteknya.
Terlepas
dari guyonan yang receh itu, ternyata
senja begitu cepat muncul. Kita pun berbagi tugas. Ada yang memasak,mengambil
air, sholat dan ada juga yang tiba-tiba berteriak “eh ayam.. ayam. Itu ayam”.
Sontak semua orang yang sedang di area bivak itu kaget dan segera bahagia
dengan sedikit bingung “mana ayam, mana?”
“itu
loh ayam.. itu”. Tak lama syukron pun langsung siap-siap menangkap ayam itu
dan.. tiba-tiba benda yang dianggap ayam itu pun kempes. Sontak, semua orang
tertawa karena yang dikira ayam hanyalah kantok kresek yang menggelembung dan
si syukron merasa sebel telah ditipu oleh mba lilis.
Aku
sempat percaya kalau ada ayam yang datang karena saat survival, kita sempat
berpapasan dengan ayam hutan namun ia belari sangat kencang.
Kita
pun melanjutkan memasak dengan terus diselingi guyonan ayam kresek tadi. Ada lagi yang tiba-tiba nyeletuk “kita loh di
sini selalu makan sama daging” dengan menujukkan bungkusan kecil berwarna
kekuning-kuningan. “masako dengan daging pilihan” lagi-lagi semuanya tertawa.
Malamnya,
belajar dari hal-hal sebelumnya kita lebih memantau rundown acara. Sampai
sampai saat peluit belum berbunyi kita sepakat untuk naik ke lokasi lebih awal
5 menit dari jadwal. Saat malam terakhir itu, kita bersama-sama membentuk
lingkaran dan mengangkat tangan kita dengan berkata “matajala, jaya jaya jaya!”
hingga terdengar ke pos panitia.
Malam
itu, ada hal-hal yang belum kami tahu kalau syukron mengalami kendala saat push
up karena tanganya pernah di operasi, lisna kakinya sakit karena menuruni gundukan dengan cepat, dan rohmah yang
kondisinya mulai drop.
Dari
hal-hal itu, akhirnya kita sadar bahwa kita adalah keluarga. Seperti tubuh yang
salah satu anggota badannya sakit, maka yang lain pun akan turut merasakan itu.
Kepedulian, kekompakan, solidaritas dan kekeluargaan benar-benar kami rasakan
pada malam terakhir ini.
Manusia
memang tidak bisa hidup sendirian. Alam lah yang akhirnya benar-benar
membuktikan hal itu.
Esoknya
kita masih dihadapkan dengan agenda terakhir yaitu SRT. Setelahnya kita pun
membongkar bivak dan mengemas barang-barang kita. Tak lupa kita pun masih guyon dengan persoalan si ayam kresek dan juga daging yang kita
makan sehari hari saat di alas wonolontos, si daging pilihan. Sejak saat itu, angkatan kita lebih dikenal dengan
angkatan “ayam kresek” dan juga “daging pilihan”.
Rasanya baru kemarin aku mengenal mereka namun, aku benar-benar merasa kita adalah keluarga.
Terimakasih
matajaa.
*InayBabon
Salam
Lestari!
Matajala
jaya jaya jaya!

0 Comments:
Posting Komentar